Minggu, 27 Oktober 2013
Inilah Kronologi Permintaan Uang dari MK ke PDIP
Inilah Kronologi Permintaan Uang dari MK ke PDIP - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Tubagus Hasanuddin membenarkan pengakuan Rieke Diah Pitaloka soal adanya permintaan uang dari pihak Mahkamah Konstitusi (MK) dalam mengurus sengketa Pilgub Jawa Barat (Jabar).
Tubagus mengatakan, sebelum adanya permintaan uang itu dirinya sempat menerima pesan singkat berupa SMS dari seseorang yang mengaku dari MK. SMS itu muncul sebelum sidang gugatan Pilgub Jabar dimulai.
Dalam pesan singkat itu, orang yang mengaku dari MK menanyakan soal perkembangan gugatan pasangan Rieke dan Teten dalam sengketa di Pilgub Jabar.
"Saya bilang akan kumpulkan data dan bagaimana kebijakan partai, saya dapat arahan, kita ada data cukup dan dibawa ke MK," jelas Tubagus di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (9/10/2013).
Dia menjelaskan, selang beberapa hari kemudian, orang yang mengirimkan pesan singkat itu menelponnya. Dia kembali menanyakan soal rencana gugatan tim Rieke dan Teten.
"Dia minta ketemu, dia bilang, saya bisa memfasilitasi seperti apa masalahnya. Dia tidak bicara soal duit, jadi seolah-olah dia bilang Rieke punya banyak data yang bisa digunakan sebagai peluru," ungkapnya.
Setelah menelepon, orang yang mengaku pihak MK itu meminta perwakilan dari tim Rieke-Teten yang diwakili oleh Tubagus Hasanuddin untuk bertemu.
Pertemuan itu dimaksudkan untuk membicarakan soal strategi gugatan tersebut di MK.
Tubagus menceritakan, pihaknya akhirnya memenuhi permintaan orang tersebut dan akhirnya bertemu di Central Park di wilayah Tomang Jakarta Barat. Pertemuan itu berlangsung selama lebih kurang 30 menit.
"Saya tidak kenal, dan saya duduk. Pertemuan setengah jam pertama. Saya pikir dia ahli hukum, karena dia bilang Rieke punya peluru. 45 menit kemudian, dia bilang, bisa (bantu) kita ini itu dan sebagainya," imbuhnya.
Namun Tubagus mengatakan, ditengah pembicaraan itu orang yang pengaku dari pihak MK itu tiba-tiba menyinggung soal adanya uang yang harus dikeluarkan oleh tim Rieke-Teten dalam gugatan sengketa Pilgub Jabar tersebut.
"Tapi dia bilang tapi, untuk peperangan itu butuh senjata. Saya pasti mikir duit. Jadi saya bilang, tidaklah. Apa pantas untuk MK kok bisa dibayar," paparnya.

Tubagus mengatakan uang yang diminta oleh orang yang mengaku dari pihak MK itu adalah Rp10 miliar. Uang itu disebutkan untuk mengurus segala persoalan sengketa Pilgub Jabar di MK.
"Dia bilang administrasi, menyewa lowyer. Saya bilang, tidak punya, calonnya juga punya (lawyer). Lalu selesai, saya tidak pernah ketemu lagi. Dia laki-laki. Dia bilang, bisa mengakses dalam proses pemenangan di MK. Dia tidak ngomong dia orang MK," jelas Wakil Ketua Komisi I DPR ini.
Kejadian itu sengaja tidak diungkapkan ke publik karena Tubagus mengaku tak percaya dengan orang yang mengaku dari MK. Apalagi bisa memuluskan sengketa Pilgub di MK.
Namun setelah tertangkapnya Ketua MK nonaktif Akil Mochtar, kejadian itu seakan memiliki keterkaitan yang sangat erat.
"Saya tidak lapor, karena saya prinsipnya melalui jalur hukum saja, saya percaya sama MK. Saya pikir orang itu ngaku-ngaku orang MK, tapi ternyata saya salah. Saya pikir dia orang yang tidak jelas," tandasnya.
source: inilah.com
Tubagus mengatakan, sebelum adanya permintaan uang itu dirinya sempat menerima pesan singkat berupa SMS dari seseorang yang mengaku dari MK. SMS itu muncul sebelum sidang gugatan Pilgub Jabar dimulai.
Dalam pesan singkat itu, orang yang mengaku dari MK menanyakan soal perkembangan gugatan pasangan Rieke dan Teten dalam sengketa di Pilgub Jabar.
"Saya bilang akan kumpulkan data dan bagaimana kebijakan partai, saya dapat arahan, kita ada data cukup dan dibawa ke MK," jelas Tubagus di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (9/10/2013).
Dia menjelaskan, selang beberapa hari kemudian, orang yang mengirimkan pesan singkat itu menelponnya. Dia kembali menanyakan soal rencana gugatan tim Rieke dan Teten.
"Dia minta ketemu, dia bilang, saya bisa memfasilitasi seperti apa masalahnya. Dia tidak bicara soal duit, jadi seolah-olah dia bilang Rieke punya banyak data yang bisa digunakan sebagai peluru," ungkapnya.
Setelah menelepon, orang yang mengaku pihak MK itu meminta perwakilan dari tim Rieke-Teten yang diwakili oleh Tubagus Hasanuddin untuk bertemu.
Pertemuan itu dimaksudkan untuk membicarakan soal strategi gugatan tersebut di MK.
Tubagus menceritakan, pihaknya akhirnya memenuhi permintaan orang tersebut dan akhirnya bertemu di Central Park di wilayah Tomang Jakarta Barat. Pertemuan itu berlangsung selama lebih kurang 30 menit.
"Saya tidak kenal, dan saya duduk. Pertemuan setengah jam pertama. Saya pikir dia ahli hukum, karena dia bilang Rieke punya peluru. 45 menit kemudian, dia bilang, bisa (bantu) kita ini itu dan sebagainya," imbuhnya.
Namun Tubagus mengatakan, ditengah pembicaraan itu orang yang pengaku dari pihak MK itu tiba-tiba menyinggung soal adanya uang yang harus dikeluarkan oleh tim Rieke-Teten dalam gugatan sengketa Pilgub Jabar tersebut.
"Tapi dia bilang tapi, untuk peperangan itu butuh senjata. Saya pasti mikir duit. Jadi saya bilang, tidaklah. Apa pantas untuk MK kok bisa dibayar," paparnya.
Tubagus mengatakan uang yang diminta oleh orang yang mengaku dari pihak MK itu adalah Rp10 miliar. Uang itu disebutkan untuk mengurus segala persoalan sengketa Pilgub Jabar di MK.
"Dia bilang administrasi, menyewa lowyer. Saya bilang, tidak punya, calonnya juga punya (lawyer). Lalu selesai, saya tidak pernah ketemu lagi. Dia laki-laki. Dia bilang, bisa mengakses dalam proses pemenangan di MK. Dia tidak ngomong dia orang MK," jelas Wakil Ketua Komisi I DPR ini.
Kejadian itu sengaja tidak diungkapkan ke publik karena Tubagus mengaku tak percaya dengan orang yang mengaku dari MK. Apalagi bisa memuluskan sengketa Pilgub di MK.
Namun setelah tertangkapnya Ketua MK nonaktif Akil Mochtar, kejadian itu seakan memiliki keterkaitan yang sangat erat.
"Saya tidak lapor, karena saya prinsipnya melalui jalur hukum saja, saya percaya sama MK. Saya pikir orang itu ngaku-ngaku orang MK, tapi ternyata saya salah. Saya pikir dia orang yang tidak jelas," tandasnya.
source: inilah.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar